Promo menarik pada undian Data HK 2020 – 2021.

Jakarta (beritajatim. com) – Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsuddin akhirnya memenuhi panggilan KPK dalam penyidikan kasus telaahan sual terkait penanganan kejadian Walikota Tanjuang Balai Tarikh 2020-2021. Politikus Partai Golkar itu pun bungkam sudah menjalani pemeriksaan sekitar sembilan jam oleh penyidik.

Aziz memilih stagnan saat meninggalkan kantor KPK di bilangan Kuningan Jakarta Selatan sekitar pukul 17: 40 WIB. Sementara Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri menegaskan, Aziz diperiksa sebagai saksi dengan tersangka SRP (AKP Stepanus Robin Pattuju, penyidik KPK lantaran Polri, red). Namun, Ali belum menjelaskan materi penelitian terhadap Aziz.

“Saksi ialah pihak yang diduga menyelami rangkaian peristiwa perkara itu sehingga keterangannya diperlukan supaya menjadi lebih terang terkaan perbuatan para tersangka pada perkara ini, ” sekapur Ali.

Sebelumnya, KPK juga telah memanggil Aziz pada Jumat, 7 Mei 2021. Namun Terhormat tidak memenuhi panggilan KPK.

Seperti diketahui, sebelumya KPK telah melaksanakan penggeledahan di ruang kegiatan di Gedung DPR MENODAI dan rumah dinas Terhormat Syamsuddin. Dalam proses pemeriksaan, ditemukan dan diamankan bukti-bukti diantaranya berbagai dokumen dan barang yang terkait secara perkara. Bukti-bukti tersebut akan segera di lakukan analisa mendalam serta verifikasi untuk segera diajukan penyitaan sebagai bagian dalam berkas perkara dimaksud.

KPK juga telah melarang Aziz Syamsuddin bepergian ke luar negeri. Alasannya agar yang bersangkutan tetap berada dalam tanah air jika sewaktu-waktu diperiksa penyidik KPK. Pembatasan bepergian ke luar itu terhitung mulai 27 April 2021 hingga selama enam bulan ke depan.

KPK menyebut, jalan pencegahan ke luar daerah ini tentu dalam bentuk kepentingan percepatan pemeriksaan dan menggali bukti-bukti lain. Biar pada saat diperlukan untuk dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan pihak-pihak tersebut tetap berada di wilayah Indonesia.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial (MS) dan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju (SRP) sebagai simpulan. Keduanya terlibat perkara uang sogok penyelidikan dugaan kasus manipulasi di Pemkot Tanjungbalai.

Selain kedua orang tersebut, KPK juga menetapkan tersangka lain yakni advokat Maskur Husain (MH). M Syahrial dan Stepanus masa ini ditahan KPK. Itu ditahan di tempat dengan berbeda. Stepanus ditahan pada Rutan KPK Gedung Abang Putih. Sementara, M Syahrial ditahan pada Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur.

Kasus tersebut bermula saat M Syahrial meminta bantuan kepada Stepanus pada Oktober tahun awut-awutan. M Syahrial ingin pemeriksaan kasus korupsi di dunia Pemkot Tanjungbalai yang tengah dilakukan KPK dihentikan. Stepanus bersama Maskur sepakat buat membuat komitmen dengan Syahri terkait penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi di pemkot tanjung balai untuk tak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp 1, 5 miliar.

KPK menduga ada peran Pengantara Ketua DPR Aziz Syamsuddin sebagai yang memperkenalkan kedua pihak. Kasus ini berasal, pada Oktober 2020, M Syahrial dan Stepanus bertemu di rumah dinas Pemangku Ketua DPR, Azis Syamsudin. Dalam pertemuan itu Azis meminta Stepanus membantu M Syahrial.

Dalam pertemuan tersebut Aziz menghadirkan Stepanus dengan Syahrial terpaut penyelidikan dugaan korupsi di pemerintahan Kota Tanjungbalai dengan sedang dilakukan KPK supaya tidak naik ke tahap penyidikan dan meminta supaya SRP dapat membantu supaya permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK. Azis diduga kenal dengan Stepanus dari ajudannya yang sama-sama anggota Polri.

M Syahrial kemudian memindahkan uang itu kepada Stepanus secara bertahap. Total uang yang telah diterima Stepanus sebanyak Rp 1, 3 Miliar. Namun penerima bukan segera Stepanus, melainkan tempat nama Riefka Amalia (RA) yang merupakan pihak swasta.

Syahrial mengizinkan permintaan tersebut dengan membawa uang secara bertahap invalid lebih 59 kali memindahkan kepada rekening milik belahan Riefka teman dari Stepanus dan juga Syahrial menyerahkan uang secara tunai pada Stepanus sehingga total uang yang telah diterima sebab SRP kurang lebih Rp 1, 3 miliar.

Pembukaan rekening bank oleh RSP dengan menggunakan nama RA dimaksud telah disiapkan sejak Juni 2020 atas inisiatif Maskur. Sesudah uang diterima Stepanus, Stepanus meyakinkan bahwa KPK tak akan melanjutkan penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi di Pemkot Tanjungbalai itu. [hen/suf]