Jombang (beritajatim. com) – Namanya Vina Nofes Tianingsih (33), beralamat di Dusun Krandegan, Kampung Kedungmlati, Kecamatan Kesamben, Jombang. Vina terbilang cukup berani. Dia berani mengirimkan paket berupa salak menyimpan 1. 815 butir pil koplo ke Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Jombang.

Namun karena keberaniannya itu pula, Vina harus berurusan dengan pihak berwajib. Bahkan tak lama lagi, Vina harus menyusul suaminya, Hermanto alias Baron, mengeram di balik jeruji besi. Pasalnya, polisi sudah menetapkan wanita kemunculan Nganjuk 10 November 1987 tersebut sebagai tersangka.

Vina ditangkap di rumah orangtuanya di Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Jombang, Senin (24/8/2020) sore. Wanita berambut sebahu ini dijerat pasal 196 UNDANG-UNDANG RI no 36 tahun 2009 tentang kesehatan Jo Pasal 53 KUHP. “Selain menangkap VN alias Vina, kami juga menyita sebanyak barang bukti, ” ujar Besar Satuan Reskoba Polres Jombang AKP M Mukid, Rabu (26/8/2020).

Barang bukti itu antara lain, satu buah kresek yang dalam dalamnya terdapat 9 kulit salak berisi 1. 815 butir tablet dobel L, kemudian tisu dan 32 biji buah salak. Selain itu, polisi juga menyita utama lembar kertas pendaftaran penitipan bahan, serta satu unit telepon pintar warna putih.

Mukid menjelaskan, Vina adalah seorang ibu rumah tangga. Setelah menikah dengan Hermanto, dia tinggal di Dusun Krandegan, yakni vila sang suami. Meski sudah diam tangga, namun Hermanto (36) sedang bermain-main dengan narkoba.

Hingga akhirnya pada Senin (26/08/19) malam, pria berambut kriwul tersebut digulung polisi. Hermanto ditangkap di rumahnya. Dari tangannya, petugas menyita seberat 10, 67 gram sabu-sabu yang disimpan dalam belasan plastik klip. Beratnya bervariasi, mulai dari 0, 5 gram hingga 2 gram.

Polisi serupa mengamankan dua buah handpohone, sebuah timbangan elektrik serta dua pak plastik klip kosong. Berkas kasus Hermanto kemudian menggelinding ke Kejaksaan. Dalam persidangan di PN (Pengadilan Negeri) Jombang, warga Kesamben ini divonis tujuh tahun penjara. Baron mendekam di Lapas Jombang. “Jadi dia baru setahun menjalani hukuman, ” kata Mukid.

Sejak itu, Vina kembali ke rumah orangtuanya di Ngronggot, Nganjuk. Meski mendekam di Lapas, ternyata Baron masih bisa berkomunikasi secara sang istri. Pasalnya, di Lapas tersebut menyediakan fasilitas telepon ataupun wartel (warung telepon).

Petugas Lapas mengeluarkan pil koplo dari dalam salak

Dari situlah petaka bermula. Baron menghubungi Vina. Dalam percakapan lewat ujung telepon, Baron meminta istrinya menemui seorang pria di area persawahan Kecamatan Diwek untuk mengambil titipan. Vina menyanggupi permintaan itu.

Keesokan harinya, Senin (24/8/2020) pagi, Vina berangkat dari rumahnya dengan mengendarai motor. Dari Ngronggot menuju Jombang. Vina kemudian bertemu secara seorang pria di persawahan. Adam misterius itu menitipkan satu plastik kresek warna hitam putih dengan berisi salak. Usai menyerahkan pokok itu, pria tersebut menghilang.

Sedangkan Vina melanjutkan penjelajahan menuju Lapas Jombang. Karena tak boleh membesuk secara langsung, Vina menitipkan paketan salak itu di pos penjagaan. Di plastik itu tertulis nama warga binaan yang hendak dikirimi paket buah, yaitu Hermanto alias Baron. Nama Vina berikut alamatnya sebagai pengirim serupa tertera di kertas yang tertempel di kantung plastik itu. Usai menitipkan, Vina balik kanan.

Sebelum meneruskan titipan ke sel yang dituju, petugas penjagaan melakukan pemeriksaan terlebih dulu. Nah, dari situlah penyelundupan itu terbongkar. Petugas melihat ada tisu putih yang menyembul sebab dalam buah salak. Kecurigaan petugas semakin bertambah. Karena saat dipegang, buah salak sangat empuk.

Salak yang berjumlah 32 buah itu diperiksa. Kecurigaan petugas terbukti. Karena saat dipecah dalam dalam buah tersebut terdapat butiran pil koplo jenis dobel L. Pihak Lapas kemudian menghubungi Polres Jombang. Vina yang sudah pulang, langsung diburu. Dia ditangkap pada rumah orangtuanya.

Pada polisi, Vina mengaku mendapatkan imbalan Rp 200 ribu atas jasanya mengantar salak berisi pil koplo itu. Meski demikian, korps berseragam coklat tidak percaya begitu sekadar. Rencananya, seluruh pengakuan Vina mau dikonfrontir ke Hermanto. “Dari situ akan diketahui siapa pria dengan menyuplai 1. 815 butir tablet koplo ke Lapas Jombang, ” ungkap Mukid. [suf]