Surabaya (beritajatim. com) – Pengkritik komunikasi politik asal Universitas Pendirian Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Catur Suratnoaji menilai, pasangan bahan (paslon) nomor urut 1, Eri Cahyadi-Armudji, unggul telak saat diskusi publik kedua Calon Wali Kota dan Calon Wakil Wali Praja (Cawali-Cawawali) Surabaya, Rabu (18/11/2020) malam.

“Debat kedua suangi ini, paslon Eri-Armudji unggul tepat. Skor 5-1. Sejak segmen baru hingga terakhir, Eri-Armudji semua ulung. Eri-Armudji hanya kurang prima dalam masalah pelayanan kesehatan soal stunting. Eri-Armudji mengakui jika di Surabaya memang ada stunting. Tapi perkara itu bisa dipatahkan Eri Cahyadi, dengan menyebut jumlahnya tidak sejumlah yang disebutkan paslon nomor dua, ” ujar Catur.

Skor telak 5-1 diberikan, tinggi Catur, bukanlah suatu yang kelewatan karena penguasaaan materi Eri-Armudji benar unggul. Selain itu, mereka juga menguasai data, mampu mengungkapkan pendirian lebih baik, gagasan yang bertambah realistis dan bisa dilaksanakan, tidak sekadar janji-janji.

“Paslon nomor 2 saat debat sebetulnya memberikan gagasan terlalu muluk-muluk serta meragukan untuk bisa direalisasikan, ” tuturnya.

Saat sesi tanya jawab, prawacana Catur, banyak pertanyaan-pertanyaan dari paslon nomor 2 yang bisa dipatahkan Eri-Armudji dengan data-data yang dimiliki. Sedangkan paslon 2 saat dikasih pertanyaan, mereka menjawab tidak cocok konteks, mengambang dan tidak disertai data. Contohnya adalah saat membahas masalah gelandangan dan lansia yang dinilai paslon 2 masih tersedia, seperti di kawasan terminal.

“Memberikan contoh gelandangan yang ada di terminal itu tidak kontekstual. Artinya, mereka hanya tahu secara kasat mata. Kan belum tentu orang itu orang sah Surabaya. Bisa saja hanya singgah sementara. Jadi, data yang disajikan tidak berdasar fakta dan bukti yang kuat. Fakta yang ada tidak didalami dan tidak bisa dipertanggung jawabkan, ” jelas Catur.

Ketika ditanya soal ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dan ILOR (Incremental Labour Output Ratio) oleh Eri, Machfud-Mujiaman pula tak bisa menjawab. Mujiaman malah menyebut hal itu nanti hendak ditanyakan ke anak buah. Padahal, ICOR dan ILOR adalah parameter ekonomi yang sangat penting, apalagi saat ini semua daerah dihadapkan pada tantangan pemulihan ekonomi.

Begitu juga saat membahas masalah pertanian & nelayan. Paslon nomor 2 tidak memberikan solusi kepada mereka. Real, petani dan nelayan itu faktanya ada di Surabaya, tapi diabaikan dengan tidak memberikan gagasan yang jelas.

“Secara menyeluruh, Eri-Armudji memberikan gagasan agar Surabaya ke depan lebih baik. Sedangkan paslon nomor 2 banyak mengada-ada kelemahan dan kegagalan masa lulus. Tidak menunjukkan gagasan apa dengan akan dilakukan mendatang. Makanya nilai telak 5-1 untuk keunggulan Eri-Armudji tidak berlebihan, ” pungkasnya. [tok/suf]