Surabaya (beritajatim. com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melahirkan Surat Edaran (SE) terkait pengawasan terhadap pendatang yang nantinya akan tinggal di wilayah perkampungan. Pengawasan ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya penyaluran Covid-19.

Kepala Arah Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara mengatakan, sejak tanggal 21 September 2020, Pemkot Surabaya telah melahirkan surat edaran terkait upaya memutus mata rantai Covid-19. Surat informasi ini dibagikan kepada seluruh Ketua RT/RW di 31 kecamatan Surabaya.

“Isinya yaitu sama dengan kami sampaikan beberapa waktu lalu bahwa upaya pemutusan mata rantai ini kita perketat lagi. Sebab kita melihat Surabaya sudah terarah, tetapi kita tidak boleh mengendurkan itu, ” kata Febriadhitya pada kantornya.

Menurut Febri, surat edaran tersebut bertujuan untuk memperketat pengawasan terhadap pendatang yang nantinya akan tinggal di wilayah perkampungannya. Namun, surat edaran tersebut juga berlaku kepada warga Surabaya yang baru melakukan perjalanan sebab luar yang mungkin itu wilayah pandemi ataupun warga non Surabaya yang akan berkunjung ke sendi saudaranya.

“Itu nanti diharapkan mereka bisa melakukan swab terlebih dahulu di Labkesda (Laboratorium Kesehatan Daerah) Surabaya. Jadi para RT/RW kami berikan itu untuk memperkuat kampung tangguh untuk bisa mengecek, ” kata dia.

Selain membagikan SE kepada RT/RW, Pemkot Surabaya juga tengah mempersiapkan surat edaran khusus buat pemilik usaha penginapan atau apartemen. Nantinya, pemilik usaha penginapan juga diharapkan dapat menerapkan hal sewarna.

“Masih kami konsepkan, karena nanti ini kan pengelola penginapan ini mereka juga memiliki Satgas. Tentunya, jangan sampai perekonomian ini berjalan dengan baik, tetapi malah menyebabkan kerugian karena menyebarnya Covid-19, ” pesan dia.

Untuk mendukung hal tersebut, kata Febri, camat dan lurah di 31 kecamatan Surabaya bakal memasifkan terkait surat edaran itu. Bahkan, setiap ada temuan di lapangan, baik camat maupun lurah akan selalu memonitoring dan melaporkan hal tersebut.

“Jadi nanti para camat dan lurah akan memasifkan terkait edaran itu. Terus kemudian bisa mengontrol juga nantinya akan dilaporkan seandainya tersedia yang ditemukan, ” jelas tempat.

Febri juga menjelaskan, bahwa apabila di wilayah perkampungan nantinya ditemukan indikasi kasus Covid-19, selanjutnya Ketua RT/RW dapat mengadukan ke satgas kelurahan atau kecamatan. Nah, berdasarkan informasi yang didapat dari pengurus kampung itu, maka pihak puskesmas kemudian dapat tepat mendatangi warga itu untuk dilakukan swab.

“Di tulisan edaran itu juga disampaikan biar bisa berbesar hati jika seandainya ketika di-tes nanti hasilnya meyakinkan, ” terangnya.

Bagi warga Surabaya kalau hasil swab dinyatakan positif, selanjutnya dia akan menjalani perawatan pada Hotel Asrama Haji. Sedangkan bagi warga luar kota, akan ditempatkan di Rumah Sakit Lapangan Indrapura.

Maka dari tersebut, Febri kembali berpesan kepada awak luar kota atau tamu lantaran luar Surabaya untuk menunjukkan buatan RT-PCR/Swab negatif sebelum tinggal lebih dari tiga hari di Tanah air Pahlawan. Apabila belum memiliki buatan RT-PCR/Swab, warga non Surabaya dapat melakukan pemeriksaan di Labkesda dengan biaya Rp 125 ribu mulai orang.

“Untuk warga yang kos mengikuti (surat edaran) RT/RW. Kalau yang apartemen memang kami masih konsepkan dengan pemangku penginapan, ” pungkasnya. [ifw/but]