Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

Pamekasan (beritajatim. com) –  ‘Ngaji Akhlak’ menjadi kegiatan baru ajang Pekan Ngaji 6 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, yang secara resmi dibuka pada Selasa (16/3/2021) malam.

Pada Opening Cereminy yang dipusatkan dalam halaman madrasah putri, pelajaran ‘Ngaji Akhlaq diisi sebab Direktur Aswaja Pengurus Provinsi Nahdlatul Ulama (PWNI) Daerah Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin didampingi Dr Iksan Kamil Sahri yang diplot sebagai moderator kegiatan.

‘Pondok Pesantren sebagai Pondasi di Era Milenial’ menjadi sub tema dalam ajang tahunan pesantren yang kali ini mengusung Grand Tema ‘Sharing The Usefulness’ , sekaligus selaras secara motto yang diusun Pondok Bata-Bata, yakni ‘Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya daripada Kecerdasan’.

Dalam rajin Ngaji Akhlak, Kiai Ma’ruf Khozin menyampaikan materi sekitar standar akhlak, sekaligus mendahulukan pentingnya introspeksi dan mengaplikasikan etika murni dalam kehidupan sehari-hari. “Pesantren merupakan tempat terbaik untuk membentuk bersifat kaum muslimin Indonesia, ” ungkapnya.

“Sebab di lingkungan pesantren, moral generasi muda bakal digembleng dengan begitu kuat melalui tiga hal, yaitu salat berjemaah, mempelajari pengetahuan agama dan tentunya pondok sebagai tempat belajar budi pekerti, ” sambung Kiai Ma’ruf Khozin.

Tak hanya itu, ia selalu menyampaikan pentingnya menjaga etika dan perilaku positif dalam menjalani kehidupan sosial kemasyarakatan. Sebab hal tersebut menjadi alasan awal seseorang buat memberikan penilaian kepada karakter lain.

“Perlu kita ketahui bersama bahwa hal yang paling nyata dapat diamati dari di setiap orang bukan terletak di dalam kecerdasan maupun kekayaannya, tetapi pada akhlak yang terlihat dalam perilaku sehari-hari, ” tegasnya.

Dari itu dia mengajak seluruh kaum santri, secara umum seluruh elemen masyarakat agar memprioritaskan akhlak dibandingkan lainnya. “Standar budi pekerti itu ada tiga, paras yang sumeringah, melakukan peristiwa terbaik kepada orang lain, serta tidak menyakiti orang lain, ” jelasnya.

Tidak hanya itu, ia menilai era milenial yang ditandai dengan kurun disrupsi justru dapat membawa peluang negatif bagi tatanan kehidupan. Hal tersebut ditandai dengan kemerosotan moral asosiasi. “Fenomena ini dapat kita lihat dengan semakin terkikisnya nilai-nilai moral, seperti etika anak kepada orangtua dan lainnya, ” imbuhnya.

“Termasuk juga era milenial yang ditandai dengan digitalisasi yang mengakibatkan dunia keilmuan tidak jelas karena kemudahan akses internet. Sehingga siapapun dapat menjadi ustadz dan penceramah dadakan, itupun tanpa harus ada background pendidikan agama yang nyata. Sehingga para santri hrus mampu tampil dan menjemput peran dalam menyebarluaskan kemahiran yang dimiliki di pesantren, ” pungkasnya.

Untuk diketahui, pelaksanaan Pasar Ngaji 6 yang dijadwalkan digelar selama sepekan kedepan, berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya. Di mana para tarikh ini hanya diperuntukkan buat internal pesantren dan tidak untuk masyarakat umum, hal tersebut akibat adanya pandemi Coronavirus Disiase 2019 . [pin/kun]