Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Jombang (beritajatim.com) – Hari Raya Idul Adha 1442 H masih sekitar dua minggu lagi, namun kesibukan sudah mewarnai Juleha (Juru Sembelih Halal) Jombang, Jawa Timur. Mereka melakukan ‘road show’ dari satu kecamatan ke kecamatan lain. Tujuannya, memberikan pelatihan penyembelihan hewan secara halal dan baik atau ikhsan.

Pada Minggu (4/7/2021), organisasi yang beranggotakan juru sembelih ini mendapat undangan dari Ranting NU (Nahdlatul Ulama) Kelurahan Jelakombo, Kecamatan Jombang Kota. Sedikitnya 20 orang warga setempat dilatih menyembelih hewan kurban. Hal itu sebagai persiapan datangnya Iduladha 20 Juli mendatang.

Sejak pagi, Balai Dusun Kwijenan, Kelurahan Jelakombo, sudah ditata sedemikian rupa. Kursi undangan berjajar dengan jarak tertentu. Ada sekitar 20 peserta. Mereka adalah takmir masjid/musala dan tokoh masyarakat yang selama ini punya tugas menyembelih hewan di lingkungannya masing-masing.

Acara digelar sesuai protokol kesehatan (prokes). Jumlahnya dibatasi, semua wajib memakai masker dan mencuci tangan sebelumnya memasuki ruangan. Materi tentang fikih kurban disampaikan oleh Gus Zainal, asal Kecamatan Diwek. Sementara dari Juleha ada dua orang pemateri.

Mereka adalah Azhar Nurdin atau Bang Azh (33), yang memberikan materi tentang teknik penyembelihan hewan. Kemudian Nurkholis Rahmat Basuki (41) menyampaikan materi seputar teknik handling (merobohkan hewan kurban), teknih asah, dan pengenalan material bilah serta perawatannya.

Bang Azh memulai materinya dengan tayangan video tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan orang saat melakukan penyembelihan. Dalam tayangan tersebut terlihat seseorang menyembelih sapi menggunakan pisau panjang. Namun, meski disembelihkan berkali-kali, hewan tersebut tidak mati.

“Ini kesalahannya karena pisaunya kurang tajam. Bisa juga karena gelambir pada leher sapi tidak ditarik kencang, sehingga menghalangi proses penyembelihan. Makanya sebelum melakukan penyembelihan, pisau yang kita gunakan harus diasah setajam mungkin. Ukuran tajam itu bisa digunakan membelah kertas dengan halus. Atau bisa untuk mencukur bulu tangan kita,” ujar Bang Azh yang mengenakan kain penutup kepala atau blangkon bermotif batik.

Secara umum, Bang Azh mengelompokkan materi yang ia sampaikan menjadi beberapa sub tema. Di antaranya, alat pelindung diri saat menyembelih hewan, persiapan penyembelihan, lalu penyembelihan itu sendiri, serta cek kematian.

Anggota Juleha Jombang saat menyampaikan materi tentang teknik sembelih

Lagi-lagi, materi yang disampaikan itu menarik perhatian para peserta, semua menyimak dengan seksama. Karena materi tersebut dilengkapi dengan tampilan gambar dan video. Bang Azh menjelaskan, alat pelindung diri yang digunakan juru sembelih meliputi helm, kacamata, masker, sarung tangan antisayat, apron, sepatu boot, scabbaard (tempat pisau), pisau, serta honing atau asahan.

“Kalau memang tidak memiliki alat selengkap itu, minimal memakai tiga alat. Yakni, pisau, sepatu boot, serta asahan. Sepatu boot ini sangat penting, karena bisa melindungi kaki kita dari injakan hewan. Yang penting lagi membawa pisau tajam serta asahan,” ujar warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang ini.

Bang Azh juga berpesan kepada peserta yang hadir agar memperlakukan hewan kurban secara ihsan. Semisal, tidak memperlihatkan hewan yang disembelih di hadapan hewan lain yang masih hidup.

“Itu yang dinamakan ihsan. Hewan kurban harus diperlakukan secara baik. Hewan kurban tidak boleh disembelih di depan hewan lainnya yang masih hidup. Makanya usahakan cari tempat yang luas. Kemudian diberi sekat, untuk memisahkan lokasi penyembelihan dengan hewan lainnya,” lanjutnya.

Sekretaris Juleha Jombang Nurkholis memperagakan cara merobohkan hewan kurban

Usai Bang Azh, giliran Kholis menyampaikan materinya. Agar memudahkan peserta, Sekretaris Juleha Jombang ini membawa alat peraga berupa boneka hewan, tali, berbagai jenis pisau berikut asahannya, serta tali warna putih.

Menurut Kholis, tali atau tambang yang bagus untuk merobohkan hewan kurban adalah berbahan nilon. Karena kalau tali berbahan senar, teksturnya licin dan cenderung menyakiti hewan yang akan disembelih. Kholis lanta memperkenalkan jenis tali temali yang biasa digunakan untuk merobohkan hewan kurban.

Dia mempraktikkan dengan melilitkan tali tersebut di tubuh boneka yang digunakan sebagai alat peraga. “Jangan lupa dicek juga tali yang memberangus di hidung sapi. Karena kalau tali yang melilit hidung sapi tersebut lepas, akibatnya sangat fatal. Jangan mengganjal kaki hewan menggunakan bambu. Itu sangat menyiksa,” urainya.

Usai teknik handling, Kholis membawa gedebok pisang ke depan forum. Gedebok tersebut digunakan untuk praktik penyembelihan. Menurutnya, ada dua teknik yang biasanya digunakan untuk menyembelih hewan kurban, yakni teknik dorong dan tarik.

Agar peserta tidak bingung, pria bertubuh jangkung ini mengambil pisau berkuran 30 centimeter. Lalu menggorokkan pisau tersebut ke gedebok pisang. Dia mempraktikkan dua teknik tersebut. “Masing-masing teknik ada plus dan minusnya. Kalau di Jawa Timur kebanyakan menggunakan teknik dorong. Seperti ini,” kata Kholis sembari memperagakan teknik yang dimaksud.

Pelatihan Secara Gratis
Ketua Juleha Jombang Ahmad Khumaidi juga hadir dalam forum tersebut. Dia mengikuti acara hingga selesai. Menurut Medi, panggilan akrab Ahmad Khumaidi, mulai pertengahan Juni, pihaknya ‘road show’ dari satu kecamatan ke kecamatan lain guna memberikan materi pelatihan penyembelihan hewan kurban.

Simulasi teknik penyembelihan hewan menggunakan gedebok pisang

Pesertanya rata-rata takmir masjid/musala. Walhasil, animo masyarakat cukup bagus mengikuti pelatihan itu. “Kemarin memberikan materi di Masjid Tambakberas, sekarang di NU Jelakombo, kemudian nanti malam di Kecamatan Mojowarno. Totalnya ada sekitar 20 lokasi pelatihan selama satu bulan ini. Sebelumnya, kami juga memberikan materi di kota lain seperti Bojonegoro, Lamongan, Kediri, serta Surabaya,” kata pria berkulit putih ini.

Medi mengungkapkan, penyembelihan hewan kurban adalah titik krusial selama rangakaian perayaan Idul Adha. Karena proses itu sangat menentukan kehalalan daging hewan kurban. Namun permasalahan yang sering terjadi pada idul adha adalah terbatasnya tenaga penyembelih yang berkompeten.

Pada akhirnya bermunculan tenaga-tenaga penyembelih dadakan yang tidak berkompeten dalam penyembelihan. “Makanya, menjelang idul adha ini kami berkeliling untuk memberikan pelatihan secara gratis kepada takmir masjid dan musala. Sehingga prinsip utama penyediaan daging kurban yang halal dan baik bisa terlaksana,” pungkas Medi. [suf]