Surabaya (beritajatim. com) – Kota Surabaya dikenal dengan julukannya sebagai Praja Pahlawan. Istilah ini muncul bukan tanpa sebab, aksi heroik sejak arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945 yang bertujuan buat mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan penjajah menjadi latar belakang utamanya. Untuk memperingati peristiwa tersebut pada setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Melansir dari situs web pemerintah Kota Surabaya, saat ini Tanah air Surabaya memiliki 31 kecamatan serta 154 kelurahan. Salah satunya ialah Kecamatan Mulyorejo yang terletak pada Surabaya Timur. Menilik dari cerita, ternyata belum banyak yang pelajaran bahwa kata Mulyorejo merupakan gabungan dari dua nama pahlawan Surabaya yang gugur di masa penjajahan. Sebagai informasi tambahan, sebelum disebut sebagai kawasan Mulyorejo, kawasan tersebut dikenal sebagai pedukuhan Kepiting Lor.

Kedua pahlawan tersebut bernama Moeljono dan Sari Redjo yang diketahui merupakan sahabat sezaman. Tidak ada yang mengetahui teks mereka dilahirkan. Mereka berdua merupakan rakyat Surabaya yang berperang melawan pasukan legiun asing Inggris (Gurkha) bilamana pembersihan wilayah Surabaya sesudah terjadinya peristiwa 10 November 1945.

Berdasarkan penuturan lantaran mbah Mad (93) yang merupakan warga asli sekitar, Moeljono & Sari Redjo merupakan warga asli dukuh Kepiting Lor (saat itu Mulyorejo). Lebih rincinya Moeljono berpangkal dari daerah Pacar Kembang serta tergabung dalam pasukan Pemuda Anak buah Indonesia, sedangkan Sari Redjo berawal dari daerah Mojo.

Foto/Gambar: Dokumen Halaman Taruna Kelurahan Mulyorejo

Berdasar kesaksian dari narasumber lain H. Joko Siswoyo, bekas Sekretaris Desa (Sekdes) Mulyorejo, diketahui bahwa Moeljono menunggangi kuda saat melawan pasukan Gurkha. Ia mengenakan pakaian ala Jepang dan mendatangkan senjata jenis Tumigun. Sedangkan Pati Redjo mengenakan pakaian putih-putih, bersenjatakan Takiari (bambu runcing) dan berlaku tanpa mengenakan alas kaki apapun. Kedua tokoh tersebut juga membawa granat hasil rampasan dari prajurit Jepang sebagai bekal terakhir itu melawan pasukan Gurkha. Meski sejenis, persenjataan yang mereka bawa era itu tak dapat mengalahkan kekuatan musuh yang memiliki persenjataan lebih banyak dan modern.

Moeljono dan Redjo tewas masa tengah menghadang pasukan Gurkha yang berusaha melintas di daerah Mulyorejo saat itu. Sebelum Moeljono jadi melemparkan granat yang ia punya ke arah tank musuh, tentara musuh terlebih dahulu berhasil memicu peluru pada kaki, perut, dan kepalanya. Seketika itu, Moeljono tersungkur di tanah dan tak berdaya.

Sari Redjo sedang berusaha keras untuk menghadang pasukan musuh saat itu, namun nahasnya ia juga mengalami hal dengan sama seperti teman seperjuangannya. Dia diberondong peluru oleh pasukan melayani di dadanya. Akhirnya Sari Redjo juga tumbang menyusul temannya.

Berdasarkan kesaksian yang disampaikan mbah Untung yang juga ialah saksi sejarah sekaligus sesepuh Mulyorejo, darah kedua pahlawan tersebut mengalir melalui sungai yang terletak pada sepanjang dukuh Kepiting Lor (saat ini Jl. Mulyorejo). Munculnya pembawaan tersebut membuat warga mencari sumber darah yang ada dan menjumpai jasad mereka berada di area persawahan yang saat ini telah menjadi pemukiman warga di wilayah Mulyorejo. Sampai saat ini sungai yang dimaksud masih dapat ditemui di sepanjang pinggir jalan umum Mulyorejo.

Moeljono serta Sari Redjo diperkirakan tewas pada pukul 03. 00 sore kemudian dimakamkan menjelang shalat Maghrib. Di dalam mulanya mereka dimakamkan di pemakaman warga Piting Lor (saat ini Mulyorejo Tengah). Namun, pada tahun 1950-an makam kedua pahlawan tersebut dipindahkan ke salah satu taman Makam Pahlawan di Surabaya untuk prakarsa pemerintah. Pada tahun tersebut pula pengakuan kedaulatan RI sebab Belanda terjadi.

Sebagai bentuk penghormatan bagi Moeljono & Sari Redjo, para tokoh umum mengajukan usulan perubahan nama wilayah yang semula pedukuhan Kepiting Lor menjadi Mulyorejo, singkatan dari Moeljono dan Sari Redjo. Selain itu pada jalan raya Mulyorejo dengan terletak di perbatasan wilayah Kelurahan Mulyorejo dan Kelurahan Mojo, dibangun monumen berupa patung Moeljono dan Sari Redjo. Dalam patung tersebut Moeljono digambarkan sedang menunggang kuda dan Redjo tengah berdiri secara memegang bambu runcing.

Penemuan kembali makam Moeljono serta Sari Redjo terjadi pada tahun 2019. Saat itu komunitas Roodebrug Soerabaia dan Karang Taruna Kelurahan Mulyorejo bekerja sama untuk mengaduk-aduk makan Mulyono dan Redjo yang sempat terabaikan dan belum diketahui dengan pasti keberadaannya. Makam mereka terletak bersebelahan di Taman Makam Pahlawan Ngagel. Pada batu nisan masing-masing tertulis Moeljono dan Redjo yang wafat pada tanggal 27 November 1945.

Karang Taruna Kelurahan Mulyorejo melakukan giat sejarah ini sebagai bentuk kritik dan menumbuhkan jiwa nasionalis dalam kalangan pemuda Mulyorejo. Bahkan, para-para anggota karang taruna kelurahan Mulyorejo memiliki agenda rutin yang bergerak sama dengan komunitas Roodebrug Soerabaia untuk mengadakan drama teatrikal berjudul Mulyorejo Membara yang tak lain menceritakan mengenai perjuangan Moeljono dan Redjo.

Drama ini telah beberapa kali ditampilkan, molek dalam peringatan hari Pahlawan Nasional, maupun dalam acara-acara khusus pada dalam kota Surabaya ataupun pada luar kota. Biasanya drama teatrikal ini juga tampil di pertunjukkan mingguan yang diadakan di museum 10 November Surabaya (Tugu Pahlawan). Namun selama masa pandemi tersebut, sepertinya kegiatan tersebut tidak sanggup dilakukan maksimal seperti sebelumnya. [kun]