Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

J ember (beritajatim. com) – Politika Research and Consulting (PRC) menjadi satu-satunya lembaga sigi yang berani meramalkan calon bupati petahana Faida akan patuh dalam pemilihan kepala daerah dalam Kabupaten Jember, Jawa Timur. Padahal banyak orang memperkirakan Faida sungguh-sungguh kuat untuk dikalahkan.

“Kalau melihat peta elektoral dalam survei yang kami sajikan, ada peluang besar Jember akan dipimpin orang baru, ” kata Penasihat Eksekutif PRC Rio Prayogo, sudah presentasi hasil sigi pilkada pada Kafe MyWay, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/12/2020).

Dannis Barlie Halim, legislator Kelompok Nasdem di DPRD Jember, mengutarakan, hasil jajak pendapat yang dilakukan PRC memompa semangat tim pemenangan pasangan Hendy Siswanto dan Firjaun Barlaman. “Awalnya kami meraba-raba secara asumsi bahwa petahana sangat kuat. Alhamdulillah, dengan survei kemarin, awak jadi melek informasi pemetaan di Jember bahwa kami bisa merebut kemenangan dan tahu titik-titik mana yang harus diperbaiki, ” katanya.

Hasilnya, hitung segera Lingkaran Survei Indonesia Denny JA menempatkan Hendy-Firjaun sebagai pemenang secara keunggulan jumlah suara telak. Mereka memperoleh dukungan 47, 95 upah. Sementara calon bupati petahana Faida yang berpasangan dengan Dwi Arya Nugraha Oktavianto mendapat dukungan sebesar 30, 41 persen dan bagian Abdus Salam – Ifan Ariadna mendapat suara 21, 64 upah.

Beritajatim. com mewawancarai Rio untuk menjelaskan lebih sendat analisis politik atas kekalahan Faida dan kemenangan Hendy, Sabtu (12/12/2020). Berikut petikannya.

Beritajatim (BJ ): Bung Rio, prediksi Anda bahwa petahana tumbang dalam pilkada Jember kali ini terbukti. Bagaimana analisisnya?

Rio Prayogo (RP ) : Sejak awal, sebagai pengkaji yang bekerja dalam dunia kontestasi politik, saya menyadari betul betapa rintangan yang dihadapi Bupati Faida sangat lebar. Kekurangan beliau selama memerintah Kabupaten Jember banyak sekali dan ini bisa jadi bintik tembak para pesaingnya.

Analisis saya ini berangkat secara longitudinal, dari bacaan survei tingkat kepuasan kinerja pemerintahan Faida yang cenderung tidak memuaskan. Tahun 2018, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan Faida-Abdul Muqiet Arief cuma 50, 5 persen. Sangat aib untuk petahana.

Lantaran situ saya sudah yakin asli, kalau Faida tidak bisa menukar kinerjanya dan gagal membangun keyakinan di lingkungan pegawai negeri biasa, maka akan mudah dikalahkan pada pemilihan kepala daerah periode berikutnya.

BJ: Tapi bukankah sebagai petahana, Faida punya basis massa?

RP : Ya, Faida dari dulu punya modal 30 persen pemilih, yakni kaum dhuafa, yang pada bacaan survei dikategorikan masyarakat berilmu rendah dan berpendapatan rendah. Itu modal Faida sejak Pilkada Jember 2015. Namun Faida tidak pernah beranjak memperbaiki posisinya dalam kategori demografi pemilih menengah ke akan. Dia memilih terus berhadap-hadapan dengan kelompok masyarakat kelas menengah.

Pertarungan Pilkada Jember 2020 adalah pertarungan kelompok masyarakat status menengah dan civil society bertandang dengan petahana. Kelompok kelas menengah ini bukan elite politik. Mereka antara lain pengusaha, guru, aparatur sipil negara, tokoh-tokoh masyarakat, lembaga-lembaga non pemerintah, jurnalis-jurnalis yang parah, dan lain-lain. Mereka banyak sekadar yang kritis terhadap pemerintahan Faida. Ada yang diam, ada dengan berani bicara seperti Gus Saif (KH Saiful Rijal, salah kepala tokoh NU). Merekalah yang menimbrung menentukan Faida bisa tumbang pada Jember.

Kelompok kelas menengah ini punya jejaring ke atas dan ke bawah. Norma sederhananya, mereka adalah kelompok dengan punya simpul massa. Selama penantang Faida bisa memainkan isu di kelompok kelas menengah, maka hendak ada banyak instrumen untuk memberikan isu itu ke kelas bawah.

Jadi secara ijmal, kemenangan Haji Hendy ini merupakan kemenangan yang didukung pertarungan bagian menengah itu. Memang sebagian kelas menengah ini ada yang oleh sebab itu bagian tim kampanye Hendy. Tapi mereka akan tetap meneriakkan pertimbangan anti Faida sekalipun tanpa mematuhi atribut tim Hendy dan Salam. Ini poin terpenting.

BJ: Kok kelompok kelas menengah berseberangan dengan petahana?

RP : Kelas membuang memiliki kemampuan kognitif menilai kebijakan-kebijakan Bupati Faida dan gaya kepemimpinan petahana yang kontroversial. Misal kebijakan soal KSOTK (Kedudukan Susunan Pola dan Tata Kerja), atau kebijakan bantuan sosial seperti kongres-kongres dengan dianggap hanya untuk kepentingan kebijakan petahana dan kelompoknya.

Sisi lain, gaya komunikasi Bupati Faida yang non kompromistis menghasilkan agenda-agenda kerakyatan seperti APBD terhenti. Kelas menengah melihat rakyat maka korban dan ini membuat bagian menengah jadi kritis.

Belum lagi masalah ketidakpercayaan aparatur sipil negara terhadap Bupati Faida. Dalam survei kami, jelas ASN mengalami distrust kepada pemimpinnya hingga angka hampir 90 persen. Itu menunjukkan   bahwa di dunia birokrasi Faida sendiri tidak membantu. Dia tidak dapat support elegan dari bawahannya. Mungkin ini sebab gaya kepemimpinan Bupati Faida. Padahal ASN ini dianggap tokoh di kultur masyarakat Madura dan Jawa di lingkungan pedesaan.

Hendy – Firjaun

BJ: Begitu krusialkah karakter kelas menengah terdidik ini?

RP: Ya, karena pasca pertarungan merebut rekomendasi partai, pertarungan pilkada adalah persaingan di level tempat pemungutan suara. Yang bisa memobilisasi grass root atau kelompok kelas bawah ialah mereka yang berada di kelas menengah.

Variabel pati pertarungan pilkada tetap pada bagaimana pengelolaan isu dan narasi pada level masyarakat kelas menengah. Klan elite politik dan kelompok posisi menengah adalah pemilik narasi tersebut. Perjuangan teman-teman civil society dengan selama ini ada di arah kritis terhadap Pemkab Jember memiliki porsi dominan.

Selain itu, anggota DPRD Jember relatif baru, sehingga lebih berani menghakimi kebijakan bupati. Dewan layak diapresiasi, karena benar-benar ingin membuktikan kepada rakyat bahwa petahana secara hukum administrasi dalam penyelenggaraan kepemimpinan pada level lokal tidak layak dipilih lagi.   Dinamika yang dihadirkan Dewan sudah mampu menguras gaya Faida yang tengah berupaya menyampaikan alasan logis kepada publik kenapa dia layak dipilih lagi.

Dinamika politik di Jember ini dipotret dan diinternalisasi kaum kelas menengah, sehingga bisa disampaikan ke kelompok masyarakat akar rumput. Segala dinamika handicap kebijakan Faida, dinamika dengan Dewan, kritisisme luar biasa dari civil society semacam teman-teman NGO dan teman-teman jurnalis, memiliki peran sangat besar kepada sampainya pesan kepada akar suket atau kelas bawah. Isu parah itu tidak hanya di kawasan perkotaan, tapi juga dibawa ke level grass root. Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, fakta politik mudah tersampaikan melalui media sosial.

BJ: Sebelum pilkada, sempat ada wacana sebelas partai parlemen bersepakat untuk memunculkan satu pasangan calon penantang, karena ada anggapan bahwa petahana hanya bisa dikalahkan secara cara head-to-head. Bagaimana melihatnya?

RP: Semenjak dulu saya katakan, ini tidak ada urusan dengan head-to-head atau ada lebih dari tiga perangkat calon. Saya tetap berkeyakinan bahwa sekalipun ada tiga atau empat calon bupati, petahana akan pasti jadi titik tembak. Apapun kondisinya, cerita pertarungan petahana di mana pun hanya ada satu: penantang mengkritik kebijakan petahanan. Kemudian petahana mempertahankan posisinya dengan meyakinkan umum bahwa dia masih layak dipilih kembali. Pertarungan narasi itu dengan terjadi.

BJ: Oke, itu dari satu aspek. Bagaimana dengan aspek perut calon bupati penantang petahana?

RP: Memang mesin politik penantang Faida terlambat panas. Mereka lebih bermain isu-isu di luar antitesis kebijakan Faida. Mereka lebih memainkan isu-isu yang jauh dari isu yang sedangkan diperbincangkan kelas menengah.

Contohnya, sejak awal Hendy Siswanto memainkan isu kemiskinan. Bahkan Tenteram memainkan isu generasi milenial. Itu membuat mesin akhirnya kurang radang, karena isu yang dikonstruksi jauh dari yang diperbincangkan di status menengah.

Bahwa ekonomi sedang tidak baik, itu sungguh benar. Tapi kelas menengah tidak sedang membicarakan itu. Kelas membuang sedang membicarakan gaya kepemimpinan Bupati Faida. Gaya komunikasi bupati petahana. Gaya bagaimana manajerial pemerintahan seperti keluar dari kebiasaan, sehingga membuat distrust, konflik, dinamika politik, serta lain-lain. Itu tidak dimainkan sebab penantang. Mungkin ada perhitungan asing. Tapi saya membacanya di danau mesin agak telat panasnya, jadi handicap itu tidak dijadikan bintik tembak para penantang.

Kalau saya katakan, calon tumenggung penantang bermain save. Tak cuma Pak Hendy. Tapi juga semua calon, sehingga seolah-olah dalam pilkada Jember, petahana dianggap paling kuat hingga detik akhir, sebelum tersedia perubahan peta sedemikian massif.

Saya baca cerita panggung teman-teman Lingkaran Survei Indonesia Denny JA bahwa H-2 minggu selalu, survei mereka menunjukkan Hendy sedang tetinggal 12 persen dari petahana. Bahkan informasi yang saya dengar dari satu lembaga lagi dengan disewa Hendy Siswanto, menyebutkan selisih 17 persen untuk petahana. Tersebut mengonfirmasi pendapat saya bahwa instrumen ini kurang panas.

Teoritis, H-2 minggu sebelum pemungutan suara, ada yang disebut magic number 10 persen. Jika selisih di atas 10 persen, agaknya sulit untuk berubah.

BJ: Kalau sejenis kok bisa Hendy Siswanto alhasil menang telak?

RP: Salah satu momentumnya ada pada perubahan kepemimpinan lantaran Bupati Faida ke Wakil Bupati Abdul Muqiet sebagai pelaksana perintah selama masa kampanye. Perubahan itu menjadi salah satu keuntungan elektoral yang didapatkan Haji Hendy.

Keberanian Kiai Muqiet untuk melaksanakan keputusan gubernur dan Mendagri terkait KSOTK dengan mengembalikan status sejumlah pejabat sebelum mutasi 3 Januari 2018, memberikan satu penyungguhan kepada ASN untuk kembali percaya diri. Temuan dalam survei awak waktu itu menyebutkan, kelompok dengan lebih besar belum menyatakan sikap atau merahasiakan pilihannya adalah ASN.

Kita akui kalau tidak semua ASN ini mengangkat keputusan ini. Tapi keberanian politik ini kemudian diapresiasi covil society. Kita bisa melihat selebrasi kebijakan DPRD terhadap keputusan itu, serta bagaimana apresiasi civil society mengkapitalisasi itu untuk men-down grade tetap elektabilitas petahana. Kita lihat bagaimana apresiasi jurnalis kritis untuk terus mengabarkan ke masyarakat Jember kalau selama ini apa yang mereka teriakkan direspons gubernur dan gajah. Kapitalisasi ini memberi kepercayaan diri kepada ASN yang selama ini tidak percaya kepada Bupati Faida dan kemudian menjadi kekuatan anyar, isu baru.

BJ: Tapi kenapa Hendy lebih bisa mengkapitalisasi narasi tersebut daripada Salam?

RP: Ini karena Hendy sudah membangun gerakan politik pilkada sedari awal. Selain itu harus diakui Gus Firjaun yang menggantikan kultur NU bisa memberikan pemberian elektoral atau meyakinkan kepada klub, bahwa mereka adalah bagian kultural dari masyarakat Jember yang berbasis NU.

Ketika Faida turun terus, sementara elektabilitas Haji Hendy lambat naiknya tapi masih lebih baik dari pasangan Salam dan Ifan, kelompok amsyarakat menjelma rasional untuk menjatuhkan pilihan ke Hendy.

BJ: Tapi bukankah petahana yang berangkat dari jalur independen selalu mengkapitalisasi jargon ‘rekom rakyat versus rekom partai’?

RP: Itu pilihan riwayat yang dibangun tim Faida buat menghadapkan rakyat dengan wakilnya di parlemen. Rakyat yang memberi rekom kepada petahana adalah rakyat yang juga memberikan suara untuk wakilnya di parlemen, dan hari itu petahana sedang ingin menggugat keberadaan wakil rakyat di DPRD ataupun partai dengan cara membuat narasi besar ‘rekom rakyat versus rekom partai’.

Dia mau mendegradasikan partai, ingin menunjukkan ke masyarakat, bahwa partai itu buruk, berorientasi uang, dan tidak bergaya ketika dihadapkan dengan rakyat. Tapi sekali lagi, saya sudah katakan sejak September, peluang keterpilihan swasembada sangat kecil dan trennya terus menurun.

Mengapa? Itu karena independen hanya berbekal semangat anti partai. Sementara partai mempunyai struktur ke level paling lembah. Katakanlah partai tidak bekerja dengan tertib, tapi setidaknya partai punya tata yang kapan saja mesinnya mampu dihidupkan. Apalagi mesin itu dikasih oli bernama rekom rakyat. Tersebut oli penyemangat, oli pembakar instrumen partai untuk bekerja.

Anda bisa lihat, di partai pendukung Hendy-Firjaun ada anggota DPR RI dari Nasdem Charles Meikyansah, ada Gus Muhammad Fawait, legislator DPRD Jatim dari Gerindra yang menjadi pemilik suara terbesar saat pemilu kemarin. Tentu mereka tidak akan membiarkan marwah partainya dilahap habis oleh isu itu.

Menurut saya, itu narasi jebakan buat petahana yang seperti dengan rekomendasi dukungan 140 ribu sekian orang warga Jember, tempat sudah bisa melanggengkan kekuasaanya. Dia tidak sadar bahwa narasi tersebut pertarungan antara mesin yang sudah siap dengan mesin yang segar dirakit.

Jadi variabel kemenangan Hendy Siswanto dan Gus Firjaun adalah gerakan civil society yang massif dan terus melenyapkan pertahanan petahana dan isu ‘rekom rakyat versus rekom partai’ yang tidak bisa diterima teman-teman kelompok polit ik. [wir/ted]