Surabaya (beritajatim. com) – Setelah sembilan orang pegawai Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dinyatakan reaktif saat rapid tes beberapa waktu lalu, yang kemudian ditindaklanjuti dengan tes swab, kini kabar beredar di dunia kantor yang ada di ustaz Arjuna Surabaya ini bahwa 4 orang dinyatakan positif Covid-19.

Sumber  beritajatim. com  membicarakan bahwa empat orang tersebut merupakan tiga orang Panitera Pengganti (PP) dan satu orang pegawai honorer.

Kontan kabar itu membuat para pegawai di PN Surabaya panik lantaran belum ada keputusan dari pihak PN apakah melakukan lockdown atau ada kebijaksanaan lainnya.

Humas PN Surabaya Martin Ginting saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya saat tersebut sedang berkoordinasi dengan ketua PN Surabaya untuk mengambil langkah.

“Saya sendiri belum tau pasti kabar tersebut (pegawai dengan positif), sebab sekarang hari libur. Yang jelas kan sabtu minggu sudah libur dan itu arah dari lockdown, kalau untuk hari Senin masih kita koordinasikan dengan pak ketua, ” ujarnya, Sabtu (8/8/2020).

Sebelumnya, PN Surabaya melakukan rapid tes terhadap 300 seluruh aparatur PN Surabaya setelah sebelumnya utama hakim dinyatakan positif. Dari rapid tersebut, sembilan orang dinyatakan reaktif.

Sembilan orang itu kemudian dalam penanganan tim gugus tugas Covid-19 dan dilakukan ulangan swab serta isolasi mandiri.

Foto ilustrasi

Sementara buat mengantisipasi libur Agustusan, masih sekapur Martin Ginting, kemungkinan upacara 17 Agustus dilakukan secara daring. Begitu juga soal penundaan sidang, hendak diatur sebelumnya.

“Kita ketahui bersama, penyebaran covid sedang belum terkendali. Bahkan muncul cluster cluster baru. Di kantor dewan dan sebagainya, ” tegas Martin Ginting.

Padahal, lanjut dia, pihaknya sudah berupaya maksimal untuk memutus mata rantai penyaluran covid. Sudah disediakan tempat basuh tangan, handsanitizer, jaga jarak bagi pengunjung meski bermasker.

“Tapi kita bersyukur, security kita yang setiap hati bersentuhan dengan masyarakat pencari keadilan, saat rapid test tidak ada yang reaktif, ” pungkas Martin Ginting. [uci/ted]